Time flies so fast, nggak terasa beberapa bulan lagi gue bakal meninggalkan masa sma. Selama perjalanan hidup gue, masa sma jadi masa paling berkesan yang beri beberapa pengalaman berharga dan penting. Diantaranya adalah bekal ilmu yang berguna nanti kelak ketika gue benar-benar disebut orang, atau pengalaman-pengalaman berkesan yang nggak bisa dibeli dan diulang. Mulai dari pengalaman ketawaan bareng sampai batuk-batuk, kena marah guru, liburan bareng, atau bahkan fallin' in love for the first time. Lengkap sudah, semua hal itu cuman ada di sma.
Nyesel? Iya. Nyesel karena nggak belajar sungguh-sungguh dan lalai selama 3 tahun ini. Selama 3 tahun belajar, hal yang gue lakukan cuman berangkat ke sekolah, menyimak apa yang disampaikan guru, dan pulang. Ketika sampai di rumah, ilmu yang gue dapat entah pergi kemana. Di rumah, gue jarang banget buka buku buat dibaca ulang. Kadang kalau ada pr baru deh dibaca ulang. Itu juga cuman buat pastikan jawaban yang udah gue salin dari internet nggak ada yang typo.
Sekarang baru deh mikir, selama 3 tahun belajar di sekolah gue ngapain aja. Apa gue buta lihat masa depan yang udah ada di depan mata, atau entah udah nggak peduli akan masa depan gue. Tapi yang jelas, perjuangan gue nggak bakal berhenti gitu aja. Masih ada jalur yang bisa ditempuh supaya bisa diterima di ptn yang gue inginkan. Sebelum diumumkan nggak layak ikut SNMPTN, gue udah punya persiapan buat hadapi jalur tes. Walaupun persiapannya belum begitu matang, tapi saat ini gue sedang berusaha agar persiapan yang gue punya bisa buat lolos SBMPTN 2018!
Semangat pantang menyerah semakin terpacu ketika sadar kalau gue anak sulung laki-laki. Sebagai anak sulung, gue punya tanggung jawab yang lebih besar buat keluarga. Beberapa hal yang gue pikirkan adalah bagaimana nanti kondisi roda perekenomian keluarga ketika bokap udah berhenti cari nafkah, atau memikirkan kebutuhan adik ketika menginjak jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beberapa hal itu gue anggap sebagai bahan bakar api semangat, supaya bisa lebih bijak menyikapi awal perjalanan hidup gue menuju kehidupan yang sesungguhnya.
Makna mengapa harus belajar akhirnya gue mengerti di akhir jenjang sma ini. Dengan belajar, gue bisa meningkatkan kualitas diri gue menuju yang lebih baik. Gue akhirnya sadar kalau gue nggak mau jadi orang yang punya kualitas diri segitu-segitu aja dan akhirnya tenggalam pada saat menghadapi gelombang manis pahit kehidupan.
Terakhir, gue ucapkan terima kasih kepada semua orang yang udah warnai pengalaman gue di sma. Semoga pengalaman yang ada bakal terus gue ingat sampai tua. Dan yang pasti, gue nggak perlu khawatir kalau nanti lupa, karena ada tulisan di blog ini jadi mesin waktu bernostalgia.
Jangan lupa untuk sampaikan pendapatmu di kolom komentar yaaa.
Dan menuju akhir perjalanan sma, beberapa hari kemarin siswa yang bisa ikut serta jalur SNMPTN telah disampaikan dari pusat. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) adalah satu dari beberapa jalur yang bisa ditempuh kalau pengin masuk ke perguruan tinggi melalui penilaian rapot semester 1 - 5. Awalnya gue optimis kalau bisa lolos, tapi ternyata kenyataan nggak memihak gue. Cuman bermodal optimis dan nilai rapot yang nggak terlalu bisa bersaing, gue ceroboh kalau yakin bisa lolos jalur ini. Hal ini justru jadi pukulan bagi gue kalau suatu hal nggak bisa didapat kalau nggak kerja keras dan bersungguh-sungguh saat prosesnya berlangsung.
Sekarang baru deh mikir, selama 3 tahun belajar di sekolah gue ngapain aja. Apa gue buta lihat masa depan yang udah ada di depan mata, atau entah udah nggak peduli akan masa depan gue. Tapi yang jelas, perjuangan gue nggak bakal berhenti gitu aja. Masih ada jalur yang bisa ditempuh supaya bisa diterima di ptn yang gue inginkan. Sebelum diumumkan nggak layak ikut SNMPTN, gue udah punya persiapan buat hadapi jalur tes. Walaupun persiapannya belum begitu matang, tapi saat ini gue sedang berusaha agar persiapan yang gue punya bisa buat lolos SBMPTN 2018!
Semangat pantang menyerah semakin terpacu ketika sadar kalau gue anak sulung laki-laki. Sebagai anak sulung, gue punya tanggung jawab yang lebih besar buat keluarga. Beberapa hal yang gue pikirkan adalah bagaimana nanti kondisi roda perekenomian keluarga ketika bokap udah berhenti cari nafkah, atau memikirkan kebutuhan adik ketika menginjak jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Beberapa hal itu gue anggap sebagai bahan bakar api semangat, supaya bisa lebih bijak menyikapi awal perjalanan hidup gue menuju kehidupan yang sesungguhnya.
Makna mengapa harus belajar akhirnya gue mengerti di akhir jenjang sma ini. Dengan belajar, gue bisa meningkatkan kualitas diri gue menuju yang lebih baik. Gue akhirnya sadar kalau gue nggak mau jadi orang yang punya kualitas diri segitu-segitu aja dan akhirnya tenggalam pada saat menghadapi gelombang manis pahit kehidupan.
Terakhir, gue ucapkan terima kasih kepada semua orang yang udah warnai pengalaman gue di sma. Semoga pengalaman yang ada bakal terus gue ingat sampai tua. Dan yang pasti, gue nggak perlu khawatir kalau nanti lupa, karena ada tulisan di blog ini jadi mesin waktu bernostalgia.
Jangan lupa untuk sampaikan pendapatmu di kolom komentar yaaa.




